BANGKITNYA RUSIA SEBAGAI
NEGARA YANG SUPER POWER
Siapa yang tidak tahu
negara ini ??? pasti semua orang tahu ini negara apa .. negara yang mashaAllah
luasnyaaaaa dan memiliki angkatan militer yang sangat besar serta kuat
Kekuasaan dapat dilihat
dari beberapa aspek yaitu power sebagai alat, power didasarkan
pada kemampuan, power sebagai hubungan dan proses, dan juga dapat
menjadi kuantitas, tetapi untuk tujuan analisis politik
internasional, power dapat dipecah ke dalam tiga konsep elemen
terpisah yaitu : Tindakan (proses,
hubungan) mempengaruhi (influence) aktor lain,Power mencakup kemampuan
(capability) yang digunakan untuk memberikan pengaruh yang signifikan, dan Tanggapan
(response) terhadap tindakan tersebut (Holsti, 1964:182). Pengaruh
(influence) dapat didefinisikan sebagai kemampuan aktor untuk mengubah perilaku
aktor lain untuk melakukan suatu tindakan atau kebijakan untuk kepentingan
negaranya. Contohnya Pemerintah Soviet dengan menggunakan berbagai instrumen
kebijakan luar negeri, telah berupaya untuk mencegah Jerman Barat untuk
memperoleh senjata nuklir, dengan menyelenggarakan Marshall Plan dan
NATO. Poin kedua adalah kemampuan (capability) , kemampuan dapat didefinisikan
sebagai kemampuan suatu negara yang dimobilisasi untuk mendukung tindakan
mempengaruhi (influence). Apa yang krusial berkaitan kemampuan untuk
mempengaruhi menurut Dahl (1961), adalah bahwa negara tersebut memobilisasi
kemampuan ini untuk tujuan politiknya, dan bahwa negara tersebut memiliki
keterampilan dalam memobilisasi kemampuan tersebut demi mencapai tujuannya dan
pada akhirnya akan mengahasilkan suatu tanggapan (response) dari negara
tujuannya, baik berupa tanggapan positif maupun negative (Holsti, 1964:185).
Pemakaian dan
pencapaian power digunakan oleh negara untuk menjalankan kebijakan
politik luar negeri yang pada akhirnya memiliki tujuan akhir untuk mewujudkan
national interest negara tersebut. Pelaksanaan power dilakukan dari berbagai
bentuk seperti ideologi, tekanan ekonomi, persuasi untuk melakukan kerjasama, kemampuan
mengelola asset fisik negara, imperialism kebudayaan maupun perang. Dari
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kekuatan nasional (national power)
merupakan kemampuan (capacity) suatu bangsa yang digunakan sebagai alat (means)
untuk mendapatkan kepentingan nasional (national interest) negaranya. Kekuatan
nasional melibatkan kemampuan untuk mempengaruhi, menggunakan tekanan ataupun
ancaman untuk mengontrol perilaku negara – negara lain sesuai dengan kehendak
sendiri demi mencapai kepentingan nasional.
Mengapa Rusia menjadi negara super power ?
Bangkitnya Rusia Sebagai Negara Super Power’. Terlepas dari
hasil yang dicapai dalam pertemuan antara Putin dan Obama untuk mendiskusikan
masalah Suriah, Ukraina dan masalah lainnya, satu hal yang jelas adalah,
pertemuan itu menunjukkan suatu hal yang tiba-tiba, bahkan sangat mengejutkan
yaitu bangkitnya kekuatan Rusia dalam beberapa tahun terakhir.
Presiden Rusia Vladimir Putin
Dalam dunia yang penuh dengan kejutan ini, mulai dari kebangkitan fundamentalisme Islam, lemahnya perekonomian China, persaingan internal Uni Eropa, tercapainya kesepakatan dengan Iran, anjloknya pasar saham Amerika, kejutan terbesar dari semua itu adalah lahirnya kembali kekuatan Rusia di bawah Vladimir Putin.
Hal ini luar biasa mengingat bahwa Rusia telah disingkirkan dari
Eropa Timur, kehilangan setengah penduduknya, tidak memiliki sektor
pertanian, tekonolgi tinggi maupun konsumen modern, serta menderita penurunan
50 persen dalam harga ekspor minyak. Ekonomi Rusia waktu itu bahkan lebih kecil
daripada Inggris, Perancis atau Jerman dan tidak bergerak ke arah kapitalisme
demokrasi Barat.
Putin berulang kali dipermalukan oleh para pemimpin Barat.
Presiden Obama, merendahkan Rusia dan menganggapnya hanya sebuah kekuatan
regional, menyatakan bahwa Putin tak lebih dari seorang anak kecil bosan yang
tengah meringkuk di belakang kelas. Kanselir Jerman Angela Merkel pernah dengan
pedas mengejek kejantanan Putin dengan mengatakan “Saya mengerti mengapa dia
harus melakukan hal ini, hanya untuk membuktikan bahwa dia seorang pria. Ia
takut dengan kelemahannya sendiri. Rusia itu tak punya apa-apa.
Namun, Rusia telah kembali menempatkan dirinya sebagai kekuatan
besar yang menggetarkan berbagai rezim otoriter dan korup di seluruh dunia.
Kesediaannya menerima kembali Krimea, Ossetia Selatan, Abkhazia dan bagian dari
Left Bank Ukraina dalam dekade terakhir, diam-diam disambut oleh para pemimpin
nasionalis konservatif dengan aspirasi mereka sendiri.
Sendirian di antara kekuatan-kekuatan besar dunia, Rusia
bertindak aktif dan bersedia untuk campur tangan dalam membantu
sekutu-sekutunya. Negara-negara Eropa tidak lagi negara kuat seperti sebelumnya
dalam Perang Dunia II. Jepang dan Jerman benar-benar merasakan bahwa
kekuatan mereka melemah pasca kekalahan di Perang Dunia II. China masih
perlu beberapa dekade jauhnya untuk menjadi negara adidaya. Amerika Serikat di
bawah Presiden Obama mementaskan aksi semi-penarikan diri dari wilayah-wilayah
utama dunia.
Para pemimpin Arab mulai dari Arab Saudi, Mesir, Maroko,
Yordania, Kuwait, Qatar dan Uni Emirat Arab berkunjung ke Moskow tahun ini.
Raja Saudi Salman bahkan menyebut-nyebut dirinya akan menyambut Vladimir Putin
ke Riyadh.Bahkan Israel berusaha semakin mendekat ke Rusia. Apakah Rusia
akhirnya akan atau tidak akan menjual sistem rudal S-300 ke Iran jelas
berpengaruh pada kepentingan vital Israel.
Perang Dingin Obama dan Putin
Presiden Suriah Bashar Assad berutang budi terhadap bantuan militer senilai 4-5 miliar dolar dari Rusia begitu pula dengan Iran. Rusia juga memainkan peran penting dalam memastikan kesepakatan nuklir untuk Iran. Rusia adalah pemasok senjata utama ke Iran dan akan membangun lebih banyak pembangkit listrik tenaga nuklir seperti Busheir.
Dengan kemampuan militer yang kuat, lokasi geografis Eurasia,
kepemimpinan yang cakap, nasionalisme konservatif dan resusitasi dalam hubungan
lama akibat Perang Dingin, Rusia telah kembali menjadi pemain utama di dunia.
ANGKATAN MILITER NEGARA RUSIA
Kementerian Pertahanan Rusia mempublikasikan laporan perangkat
militer yang baru-baru ini masuk dalam perbendaharaan senjata tentara Rusia,
demikian disampaikan Sputnik, mengutip situs resmi kementerian. Pada 2015, militer Rusia mengalami modernisasi serius yang belum pernah terjadi
sepanjang sejarah, tulis Sputnik.
Pesawat pengebom strategis Tu-160
Media Rusia tersebut melaporkan, tahun ini pasukan militer Rusia
menerima 1.172 tank baru termasuk tank canggih T-14 Armata, 250pesawat termasuk dua pengangkut misil strategis Tu-95MS dan tiga
pesawat pengebom strategis Tu-160.
Enam resimen misil dilengkapi
dengan sistem Yars yang melakukan tugas tempur bersama Pasukan Misil Strategis
Rusia. Sejumlah 95 persen sistem misil Rusia memiliki status operasional
tempur.
Angkatan Laut Rusia juga mengalami peningkatan kapabilitas.Mereka menerima
kapal selam tenaga nuklir Alexander Nevsky dan Vladimir Monomakh.
Rusia juga menempatkan 35 misil balistik baru. Armada nuklir
saat ini telah diperbaharui sebesar 55 persen.
Pesawat
pengangkut misil strategis Tu-95MS
Pesawat
pengebom strategis Tu-160
Kehebatan militer Rusia diakui di seluruh dunia. Berbagai
peperangan dan pertempuran berhasil dimenangkan militer Rusia sejak era
pemerintahan tsar hingga Uni Soviet. Kini, militer Rusia kembali menunjukkan
eksistensinya di dunia dalam peperangan melawan ISIS di Suriah.
Terkait dengan kerja sama teknis militer, Indonesia dan Rusia
telah dan terus menjalin kerja sama di bidang ini secara terus-menerus. Uni
Soviet aktif mendukung militer Indonesia pada masa mempertahankan kemerdekaan
dulu. Kini, Rusia pun aktif mendukung alutsista Indonesia agar dapat melindungi
negaranya dengan maksimal.
1.Jumlah Tentara
Menurut data dari wikipedia Rusia memiliki tentara total sebanyak 5.796.100 dengan jumlah tentara aktif sebanyak 2.037.000.
Menurut data dari wikipedia Rusia memiliki tentara total sebanyak 5.796.100 dengan jumlah tentara aktif sebanyak 2.037.000.
2.Jumlah Alat Tempur
Tercatat Rusia memiliki alat tempur darat sebanyak 79,985 dengan 22.800 diantaranya adalah tank. Russia memiliki total sebanyak 526 alat tempur laut dan memiliki 3.888 alat tempur di udara.
Tercatat Rusia memiliki alat tempur darat sebanyak 79,985 dengan 22.800 diantaranya adalah tank. Russia memiliki total sebanyak 526 alat tempur laut dan memiliki 3.888 alat tempur di udara.
3.Kekuatan Bom Atom
Bom atom dikenal sebagai senjata pamungkas alias digunakan sebagai senjata terakhir.Hal itu dikarenakan efeknya yang luar biasa.Jika kalian telah mengenal ledakan Hiroshima dan Nagasaki berarti kalian telah mengetahui bagaimana teknologi bom atom 69 tahun yang lalu.Bagaimana yang sekarang khususnya Rusia.Walaupun kekuatan atom masing-masing negara dirahasiakan namun dari beberapa ujicoba yang pernah dilakukan kita bisa tahu.
Bom atom dikenal sebagai senjata pamungkas alias digunakan sebagai senjata terakhir.Hal itu dikarenakan efeknya yang luar biasa.Jika kalian telah mengenal ledakan Hiroshima dan Nagasaki berarti kalian telah mengetahui bagaimana teknologi bom atom 69 tahun yang lalu.Bagaimana yang sekarang khususnya Rusia.Walaupun kekuatan atom masing-masing negara dirahasiakan namun dari beberapa ujicoba yang pernah dilakukan kita bisa tahu.
Tsar Bomba adalah bom milik Uni Sovyet(negara
Rusia sebelum pecah) yang juga pernah di ujicoba
MASA PEPERANGAN RUSIA
Port Arthur, di Jazirah Liaodong di selatan Manchuria, telah
diperkuat Rusia hingga menjadi sebuah pangkalan Angkatan Laut besar. Jepang
membutuhkan kekuasaan laut untuk berperang di daratan Asia, karena itu tujuan militer
pertama mereka adalah menetralkan armada Rusia di Port Arthur. Pada 8 Februari malam, armada Jepang di bawah pimpinan Admiral Heihachiro Togo memulai peperangan dengan sebuah serangan torpedo mendadak pada kapal-kapal Rusia di Port Arthur, sehingga
membuat dua kapal perang Rusia rusak parah. Serangan-serangan itu berkembang
menjadi Pertempuran
Port Arthur esok
paginya. Serangkaian pertempuran laut yang tidak memberikan hasil yang
menentukan pun terjadi. Pada kesempatan itu, Jepang tidak berhasil menyerang
Rusia dengan menggunakan meriam-meriam darat dari pelabuhan, dan armada Rusia
menolak untuk meninggalkan pelabuhan itu dan pergi ke laut terbuka, khususnya
setelah kematian Admiral Stepan Osipovich Makarov pada 13 April. Pertempuran-pertempuran ini memberikan perlindungan bagi
sebuah pasukan Jepang untuk mendarat dekat Incheon di Korea, dan dari sana mereka menduduki Seoul dan
berikutnya seluruh Korea. Pada akhir April, tentara Jepang di bawah Kuroki Itei bersiap-siap menyeberangi sungai Yalu ke Manchuria yang saat itu diduduki Rusia.
Sebagai jawaban terhadap strategi Jepang yang memberikan
kemenangan cepat untuk menguasai Manchuria, Rusia melakukan tindakan-tindakan
penghalang untuk memperoleh cukup waktu untuk menunggu tibanya pasukan-pasukan
tambahan yang datang melalui jalan kereta api Trans-Siberia yang panjang. Pada 1 Mei,
pecahlah Pertempuran Sungai Yalu. Dalam pertempuran ini pasukan-pasukan Jepang menyerang sebuah
posisi Rusia setelah mereka menyeberangi sungai itu tanpa menghadapi
perlawanan. Ini adalah sebuah pertempuran besar pertama dari perang ini di
daratan. Pasukan-pasukan Jepang bergerak maju dan mendarat di beberapa titik di
pantai Manchuria, serta melakukan sejumlah pertempuran hingga memukul balik
pasukan-pasukan Rusia ke Port Arthur. Pertempuran-pertempuran ini,
termasuk Pertempuran Nanshan pada 25 Mei, ditandai oleh kekalahan besar Jepang dalam penyerangan kepada
sejumlah posisi kuat Rusia, tetapi tentara Rusia tetap bersikap pasif dan tidak
melakukan serangan balasan.
Di laut, perang ini sama brutalnya. Setelah penyerangan
pada 8 Februari terhadap Port Arthur, pasukan Jepang berusaha mencegah
pasukan Rusia menggunakan pelabuhan itu.
Apakah Rusia pernah melakukan diplomasi ?
Pada Selasa (1/12) lalu,
RBTH Indonesia berkesempatan untuk mewawancari Duta Besar Rusia untuk Indonesia
Mikhail Y. Galuzin secara eksklusif. Ada empat topik utama yang kami tanyakan,
dan berikut adalah jawaban sang dubes terkait bagaimana hubungan
Rusia-Indonesia selama 2015 atau selama kepemimpinan Presiden Joko Widodo dalam
setahun terakhir?
Sepertinya, slogan “Kerja, kerja, kerja,” juga tepat
menggambarkan apa yang dilakukan antara Indonesia dan Rusia dan selama 2015
ini. Sumber: Shintya Felicitas/RBTH Indonesia
“Kerja, kerja, kerja,” adalah slogan yang diusung Presiden RI
Joko Widodo sebagai bentuk komitmennya untuk fokus bekerja demi rakyat
Indonesia. Tahun ini, hubungan Rusia dan Indonesia mengalami perkembangan yang
cukup signifikan. Dubes Galuzin bahkan mengatakan bahwa produktifitas
antara kedua negara telah mewarnai 65 tahun hubungan bilateral antara Rusia dan
Indonesia. Lantas, apa saja sebenarnya yang terjadi selama setahun terakhir
antara negeri di khatulistiwa dan negeri besar di utara sana? Sepertinya,
slogan “Kerja, kerja, kerja,” juga tepat menggambarkan apa yang dilakukan
antara Indonesia dan Rusia dan selama 2015 ini. Berikut wawancara eksklusif
RBTH Indonesia dengan Dubes Rusia Mikhail Galuzin.
RBTH: Bagaimana Anda menyimpulkan kerja sama antara
Rusia-Indonesia selama 2015 ini, khususnya selama berjalannya Pemerintahan
Presiden Joko Widodo? Peristiwa penting apa saja yang menandai meningkatnya
kerja sama antara kedua negara?
Mikhail Galuzin: Kami telah melakukan kerja sama yang sangat
baik selama satu tahun masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo, bahkan di
berbagai area utama kerja sama Indonesia dan Rusia.
Pertama-tama, di awal tahun ini, pada Februari, diadakan perayaan 65 tahun hubungan diplomatik antara Rusia dan Indonesia.
Rusia (yang saat itu masih bernama Uni Soviet) adalah salah satu negara yang
pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia di tahun 1950. Saya pikir, bukanlah
suatu kebetulan bahwa sepanjang tahun ini memang sangat produktif bagi kedua
negara kita, dan saya dengan senang hati menyampaikan bahwa produktifitas ini
mewarnai 65 tahun hubungan bilateral antara Rusia dan Indonesia.
Sepanjang tahun ini, kita berhasil menstimulus berbagai dialog
antara Rusia dan Indonesia. Ada beberapa kegiatan dialog skala besar yang
dilakukan, seperti Sidang Komisi Bersama di Kazan. Saat itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik
Indonesia Sofyan Djalil memimpin delegasi Indonesia untuk bertemu para pejabat
dan pengusaha Rusia di Kazan, ibu kota Republik Tatarstan.
Di bulan April, di Kazan, Forum Bisnis Rusia-Indonesia diadakan
dengan partisipasi sejumlah besar pebisnis dari kedua belah pihak. Kami memang
melakukan cukup banyak dialog secara intensif dalam bidang ekonomi. Berbagai
pertemuan dan dialog yang dilakukan berdampak secara signifikan, salah satunya
adalah peresmian proyek pembangunan jalur kereta api di Kalimantan beberapa
minggu lalu yang dihadiri Presiden Joko Widodo. Proyek ini akan dioperasikan
oleh perusahaan negara Russian Railways (RZhD) dengan anak perusahaan PT Kereta
Api Borneo (PT KAB) yang akan berkontribusi terhadap jalur perhubungan dan
infrastruktur di Indonesia. Ini merupakan suatu proyek skala.
Kemudian, kami juga mengadakan dialog terkait isu pertahanan dan
keamanan. Secara pribadi, saya ucapkan terima kasih kepada Menteri Pertahanan
RI Ryamizard Ryacudu yang telah bepartisipasi dalamKonferensi Keamanan Internasional Moskow pada April lalu, dan juga melakukan pertemuan dengan mitra
Rusianya, Menhan Rusia Sergey Shoigu. Pertemuan itu pun sangat produktif.
Lalu, tahun ini Rusia dan Indonesia berhasil memperluas dialog
antara kedua negara melalui kedua kemenlu kita, yang sebetulnya ini merupakan
saluran komunikasi yang sangat penting dalam hubungan bilateral antara kedua
negara. Pada Februari lalu, kami melaksanakan konsultasi bilateral oleh Wamenlu
Rusia Igor Morgulov yang bertanggung jawab atas diplomasi di kawasan Asia-Pasifik
dengan Kemenlu Indonesia yang diwakili Direktur Jenderal Amerika dan Eropa
Kementerian Luar Negeri RI Dian Triansyah Djani terkait agenda bilateral kedua
negara. Konsultasi ini tidak dilakukan dalam waktu yang sangat lama, tapi hal
itu akhirnya kembali terealisasi tahun ini.
Hal penting berikutnya, kami juga mengadakan konsultasi terkait
isu keamanan strategis pada Desember 2014 lalu di Moskow dengan partisipasi
Wamenlu RI Hasan Kleib dan Wamenlu Rusia Sergey Ryabkov.Selain itu, belum lama
ini, pada November, kami mengadakan konsultasi yang sangat produktif terkait
agenda HAM antara direktorat kedua kemenlu kita. Kemudian, kami juga berhasil
melanjutkan stimulus dialog komunikasi antara kedua parlemen kita. Dialog
antara para pembuat kebijakan di negara kita telah menjadi tiang yang kokoh
bagi hubungan bilateral kita, dan inilah mengapa kami sangat mengapresiasi
kunjungan terkini dari Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) Irman Gusman ke
Rusia. Di sana, dia melaksanakan pertemuan dengan mitra Rusianya, Ketua Dewan
Federasi Rusia Valentina Matvienko dan berbagai pejabat Rusia lainnya.
Saya juga ingin menyebutkan bahwa dalam peringatan 60 tahun
Konferensi Asia Afrika (KAA) di Jakarta dan Bandung pada April lalu, Presiden
Putin mengirimkan utusan khusus yang diwakili Wakil Ketua Dewan Federasi
Majelis Federal Federasi Rusia Ilyas Umakhanov untuk menghadiri peringatan yang
bersejarah tersebut dan menyampaikan pesan dari presiden Rusia di hadapan para
peserta KAA. Sejauh yang saya ingat, Presiden Putin adalah satu-satunya kepala
negara yang meskipun tak hadir, ia tetap memberikan pesan pribadinya berupa
ucapan selamat dan sambutan kepada para peserta KAA.
Kemudian, Wakil PM Rusia Arkady Dvorkovich yang bertanggung
jawab atas perindustrian berkunjung ke Jakarta pada April lalu untukmenghadiri Forum Ekonomi Dunia Asia Timur dan untuk melakukan kontak bilateral dengan Wakil Presiden
RI Jusuf Kalla.
Selain itu, di tahun ini ada pengembangan di bidang yang baru
antara hubungan Rusia-Indonesia di bidang analisis politik, yaitu sebuah
diskusi yang solid, sebuah proyek diskusi bersama yang membahas isu-isu politik
terkini dan kerja sama sosial-ekonomi di kawasan Asia-Pasifik. Diskusi inidiselenggarakan atas kerja sama Klub Diskusi Valdai dan Habibe Center,
dengan partisipasi sejumlah cendekiawan, ilmuwan, dan analis politik dari
sejumlah negara di Asia-Pasifik.
Simposium ini berlangsung di Jakarta pada 27 November lalu, dan
ini merupakan suatu bentuk pengembangan yang baru dalam hubungan antara Rusia
dan Indonesia. Secara pribadi, saya ucapkan terima kasih sikap aktif dan
konstruktif Habibie Center yang telah secara positif merespons proposal dari
Valdai yang merupakan salah satu pusat analisis politik ternama di Rusia, yang
forumnya diadakan setiap tahun di Rusia dengan partisipasi Presiden Putin sebagai pembicara kunci di forum tersebut.
Jadi, tahun ini memang sangat produktif bagi hubungan
Rusia-Indonesia, dan saya harap tren positif ini akan terus berlanjut ke tahun
berikutnya.
Referensi :
- http://arrahmahnews.com/2015/10/05/rusia-bangkit-kembali-sebagai-negara-super-power/
- http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/
- http://indonesia.rbth.com/news/2015/12/15/
- http://indonesia.rbth.com/politics/2015/12/04/
- http://www.pckeren.com/2014/03/
- https://id.wikipedia.org
VISIT AND GIVE
GOOD COMMENT












